PENDEKATAN SOSIAL BUDAYA DALAM KESPRO

By. Sayuti, M.Kes

sendiri

Sejauh ini masalah kesehatan reproduksi lebih banyak didekati dari aspek klinis sehingga berkembang anggapan bahwa masalah kesehatan reproduksi hanya dapat dipelajari dan dipecahkan oleh ahli-ahli kedokteran. Sementara itu, terdapat banyak bukti bahwa inti persoalan kesehatan reproduksi sesungguhnya terletak pada konteks sosial, ekonomi dan kebudayaan yang sangat kompleks. Kesehatan reproduksi dipengaruhi dan mempengaruhi sistem politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan gender.

Misalnya hubungan antara peran sosial laki-laki dan peran sosial perempuan dalam suatu masyarakat (gender) mempengaruhi usia perkawinan dan pengendalian kehamilan yang pada gilirannya mempengaruhi kesehatan repoduksi perempuan.

Dengan melihat pentingnya sumbangan faktor sosial, budaya, ekonomi terhadap kesehatan reproduksi, maka sangat diharapkan suatu pendekatan sosial budaya terhadap pemecahan masalah yang ditemukan di lapangan.

Kesehatan reproduksi sebaiknya dipikirkan tidak hanya oleh pakar kedoktoran, tapi harus melibatkan juga sosiolog, budayawan dan ekonom. Sehingga hubungan antar kontek sosial-budaya dengan kesehatan reproduksi dapat dipahami sepenuhnya melalui kegiatan analisis sosial budaya.

Analisis sosial-budaya dapat dilakukan pada tingkat:

  1. individu (misalnya, untuk mengerti mengapa ibu-ibu berkonsultasi dengan dukun bayi)
  2. Kelompok (misalnya, untuk mempelajari perilaku seks kelompok waria)
  3. organisasi (misalnya, untuk memahami peranan LSM dalam program KB)
  4. pemerintah (misalnya, untuk mengerti kebijakan penanggulangan AIDS)
  5. internasional (misalnya untuk memahami dinamika hubungan antara negara-negara barat dan negara-negara berkembang di bidang kependudukan).

Pendekatan Sosbud dalam praktik kebidanan dapat dilakukan melalui:

  1. Agama/pesantren
  2. Kesenian Tradisional
  3. Paguyuban
  4. Pesantren
  5. Kebijakan


UPAYA-UPAYA SOSIAL BUDAYA DASAR DALAM KESEHATAN REPRODUKSI

KELUARGA BERENCANA

Kesadaran akan pentingnya masalah kependudukan sudah dimulai sejak bumi dihuni oleh ratusan juta manusia:

Plato (427-347 SM): pertambahan penduduk harus diatur agar seimbang dengan pertumbuhan ekonomi

Ibnu Khaldun (1332-1407 M): telah membahas masalah fertilitas, mortalitas dan migrasi penduduk yang berkaitan dengan masalah sosial.

Malthus (1766-1834): pertumbuhan manusia laksana deret ukur (2,4,6…), pertumbuhan ekonomi laksana deret hitung (1,2,3…).

Realitas:

Penduduk dunia :

Tahun 1830 : 1 milyar                               Tahun 2005 : 6,5 milyar

Tahun 1930 : 2 milyar                               Tahun 2025 : diperkirakan: 8 milyar

Tahun 1965 : 5 milyar                               Tahun 2050 : diperkirakan : 9,2 milyar

Tahun 2000 : 6,2 milyar

Sumber: WHO 2005

Peringkat populasi dunia tahun  (who, 2005)

Perkiraan peringkat populasi 10 negara di dunia (who, 2005)

Untuk dapat menyelamatkan nasib manusia di muka bumi, masih terbuka peluang untuk meningkatkan kesehatan reproduksi melalui gerakan yang lebiih intensif pada pelaksanaan Keluarga Berencana.

Tanpa gerakan KB yang intensif, dikhawatirkan manusia akan terjebak dalam kemiskinan, kemelaratan, kebodohan yang merupakan malapetakan bagi manusia yang sangat dahsyat dan mencekam.

Pembangunan dan keluarga berencana merupakan dua sisi mata uang, sehingga makin diterima konsep keluarga berencana maka pembangunan keluarga akan semakin berarti.

Sejak Pincus menemukan pil KB dan dipergunakan pada manusia sejak tahun 1960, berbagai metode KB terus dikembangkan. Dunia sangat mengharapkan ditemukannya metode mutakhir untuk menurunkan angka kelahiran secara signifikan sehingga pertumbuhan penduduk dapat dikendalikan yang akhirnya berbagai fasillitas untuk kepentingan umum dapat terpenuhi.

Pemerintah Cina sangat ketat dengan program pengendalian pertumbuhan penduduk, mereka hanya membolehkan setiap keluarga untuk memiliki 1 orang anak. Sehingga, diproyeksikan tahun 2050, Cina pindah ke urutan ke2 untuk penduduk terbesar dunia.

Pemerintah Indonesia mulai menerima gagasan KB tahun 1970 dengan membentuk BKKBN. Perkembangannya menunjukkan bahwa Indonesia dianggap berhasil melaksanakan gerakan KB dengan mengikutsertakan semua komponen bangsa.

Pertanyaan selanjutnya adalah, setelah keluarga tersebut dapat mengatur jarak kelahiran, apakah keluarga tersebut berkualitas?. Karena, NKKB akhirnya dipertegas dengan makna keluarga yang berkualitas. Kualitas sumber daya manusia ini harus diartikan sebagai hasil upaya keberhasilan di semua bidang (kesehatan, ekonomi, sosial, pengendalian kependudukan, dsb).

Untuk tercapainya kehidupan yang bahagia dan sejahtera dalam lingkungan keluarga, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sehingga menjadi bangsa yang terhormat di mata dunia, maka kesadaran kesehatan reproduksi sangat penting artinya. Oleh karena itu, kesadaran kesehatan reproduksi diharapkan dapat menjadi sikap hidup kita, sehingga kesadaran kesehatan reproduksi manusia harus dibudayakan dalam kehidupan kita sehari-hari.

GERAKAN SAYANG IBU

Kematian dan kesakitan pada antenatal, postnatal dan neonatal sudah lama menjadi masalah, khusus di negara berkembang. Sekitar 20-50% kematian perempuan usia subur diakibatkan  oleh hal yang berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran.

Pelayanan kesehatan yang bermutu sangat diharapkan guna mencegah kematian dan kesakitan maternal neonatal. Saat ini lebih 3 juta bayi/tahun mati pada usia 7 hari pertama kehidupannya dan 3 juta bayi lainnya/tahun meninggal saat dilahirkan.

Kematian tersebut sebagian besar dapat dicegah walaupun menggunakan teknologi yang sederhana dan sumber daya yang terbatas.

Gerakan Sayang Ibu merupakan perpanjangan tangan dari Rumah Sakit Sayang Ibu dan Rumah Sakit Sayang Bayi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam persoalan kesehatan agar morbiditas dan mortalitas ibu dan anak dapat ditekan.

Pilar utama dalam program ini adalah antenatal care, penerimaan KB dan melaksanakan persalinan bersih dan aman serta pelayanan obstetri esensial.

Upaya pokok GSI adalah mengatasi sebanyak mungkin penyebab kematian maternal dan perinatal.

Peranan bidan desa sangat menentukan keberhasilan GSI ini. Bidan harus punya keterampilan khusus dengan latihan terus menerus mengenal keadaan patologis dan segera meningkatkan sistem rujukan.

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Gambar empat pilar safe motherhood

Sumber :YBP-SP (2005)

2 Komentar pada “PENDEKATAN SOSIAL BUDAYA DALAM KESPRO”

  1. Mustika A. S Berkata

    saya mau tanya bagaimana cara pendekatan sosbud dlm praktek kebidanan / kesehatan reproduksi melalui agama???
    trimakasih!

    • sayuti Berkata

      agama kita kan punya aturan tentang pola hidup, misalnya agama islam mengajari kita selalu berwudhu tentunya kita akan selalu bersih sepanjang hari, kebersihan kan bagian dari kespro juga, hindari seks bebas…. dalam islam aturan itu sangat tegas.. dll. slamat belajar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: